Articles by "Review"
Showing posts with label Review. Show all posts


Jika kita lihat sekilas Sony Xperia Z2 memiliki desain yang hampir mirip dengan Z1, namun Xperia Z2 mempunyai beberapa keunggulan, seperti chipset yang lebih kencang, RAM 3GB, perekaman video 4K, kemampuan noise cancelling, dan layar yang lebih besar 0,2 inci.

Berikut Spesifikasi Singkat dari Xperia Z2 :
Ukuran 146,8 x 73,3 x 8,2mm
Berat 163 gram
Memiliki Sertifikasi Tahan air dan debu dengan tingkat ketahanan IP55/58
Android 4.4 Kitkat
Chipset Qualcomm Snapdragon 80, Prosesor MSM8974AB quadcore 2,3GHz
GPU Adreno 330
RAM 3GB
Storage 16GB
Slot micro SD
Layar IPS 5,2 inci resolusi Full HD 1920x1080 piksel
Kamera utama sensor Exmor RS 20,7MP dengan perekaman video 4K 30fps serta 1080p 60fps
Kamera depan 2,2MP dengan sensor Sony Exmor R dan perekaman video 1080p
HSPA+, LTE, NFC, Wi-Fi, Bluetooth 4.0
Baterai 3200mAh

Spesifikasi Lengkap Klik Disini

Tersedia dalam varian warna hitam, putih dan ungu dan dibanderol Rp. 8.499.000, sama dengan harga Z1 saat pertama kali dirilis.


Desain dari Sony Xperia Z2 ini masih menggunakan desain OmniBalance yang ramping dengan panel kaca dan bingkai aluminium. Sangat mirip dengan Z1, ukurannya pun tidak jauh beda tapi Z2 lebih panjang sedikit. Walaupun layar Z2 lebih besar 0,2 inci dari Z1, Namun Z2 lebih ringan daripada Z1. Lihat gambar dibawah Xperia Z2 (kiri) lebih panjang dari Xperia Z1 (kanan)


BELUM TERSEDIA

BELUM TERSEDIA

BELUM TERSEDIA

BELUM TERSEDIA

BELUM TERSEDIA

BELUM TERSEDIA

BELUM TERSEDIA

BELUM TERSEDIA

Hari Rabu (18/6/2014) kemarin, LG resmi meluncurkan smartphone andalan barunya, LG G3, di Indonesia. Ponsel ini adalah yang menduduki posisi tertinggi smartphone buatan LG untuk saat ini. G3 dibekali dengan aneka macam fitur terbaru dan tercanggih yang bisa disematkan oleh LG, seperti layar quad-HD dan teknologi autofokus dengan sinar laser.

Besar, Tapi Ringan

Ada perasaan aneh kali pertama menggenggam LG G3. Dengan ukuran layarnya yang termasuk paling lebar untuk ukuran smartphone, G3 memiliki ukuran tubuh yang tak bisa dibilang kecil.

Namun dimensi fisik tersebut ternyata sedikit mengecoh. Perangkat ini terasa sangat ringan di tangan. Tidak heran, beratnya memang hanya 149 gram, lebih ringan dibandingkan beberapa ponsel flagship dari produsen lain.

oik yusuf/ kompas.com
Tubuh LG G3 berbentuk cembung di bagian belakang

Tubuh G3 berbentuk cembung di bagian belakang, sedikit melengkung ke luar. Hal ini sedikit membantu membuatnya terasa lebih nyaman ketika digenggam.

Meski layarnya sangat lebar, LG berhasil mempertahankan dimensi fisik keseluruhan dari G3 agar tak ikut “meluber”. Caranya adalah dengan menipiskan bagian bingkai (bezel) yang mengelilingi layar sehingga unit display memenuhi 77 persen dari keseluruhan sisi depan ponsel.

“Rasio (luas layar berbanding luas sisi permukaan depan) tersebut adalah yang terbesar di kelasnya. Jadi yang kita lihat di depan adalah layar dan layar,” ujar Head of Product Marketing Mobile Communication Division PT. LG Electronics Indonesia, Adinda Nesvia, ketika memberi penjelasan tentang LG G3 dalam acara peluncuran di Jakarta.

Agar menghemat ruangan lebih jauh, LG turut memindahkan tombol fisik ke layar dalam bentuk icon di tampilan antarmuka sistem operasi Android.

Untuk membuktikan ucapan Adinda, KompasTekno membandingkan tampang depan LG G3 dengan salah satu smartphone flagship yang telah lebih dulu beredar di pasaran, Xperia Z2 dari Sony.

Memang terlihat bahwa G3 memiliki layar lebih lebar (5,5 inci, berbanding 5,2 inci pada Z2), namun ukuran fisik kedua perangkat ternyata tak jauh berbeda. Bagian depan G3 terlihat lebih dipenuhi oleh layar.

Layar lebar itu memiliki resolusi sangat tinggi, mencapai 2560x1440 atau yang dikenal dengan istilah “quad-HD”. Namun, secara kasat mata, sulit membedakan ketajaman layar G3 dengan display smartphone lain yang “hanya” mendukung kualitas full-HD (1920x1080).

oik yusuf/ kompas.com 
Tampak depan LG G3

Keduanya sudah sama-sama sangat tajam dan sama sekali tidak pixellated saat dilihat dengan mata telanjang. Lagipula, resolusi sangat tinggi agaknya sedikit mubazir apabila dipakai di layar smartphone yang toh ukurannya tak sebesar monitor komputer atau televisi.

Di luar itu, tampilan layar LCD LG G3 sendiri terlihat indah, dengan kontras tinggi dan warna-warna cemerlang.

Simple

Desain keseluruhan LG G3 terlihat simple. Unit warna putih yang kami jajal memiliki bingkai layar hitam yang tampak berpadu serasi dengan keseluruhan bodi, sebagaimana terlihat dalam gambar di atas.

oik yusuf/ kompas.com
Bagian samping LG G3 terlihat bersih dari tombol

Kesan simple, menurut Adinda, memang sengaja diterapkan oleh LG pada G3. Sisi-sisi samping perangkat ini terlhat “bersih” dari tombol kontrol yang memang dipindahkan oleh pembuatnya ke bagian belakang, di dekat unit kamera.

Sisi belakang itu dilapis material logam yang membuat LG G3 terasa agak dingin ketika disentuh. Di sini pengguna bisa menemukan tombol daya yang menyatu dengan sepasang tombol pengatur suara.

LG sengaja menempatkan tiga tombol tersebut di sisi belakang, yang diklaim lebih natural karena sesuai dengan posisi jari telunjuk pengguna ketika menopang ponsel di tangan. Pendekatan ini sudah mulai diterapkan sejak produk flagship sebelumnya, G2.

oik yusuf/ kompas.com
Bagian belakang LG G3 berlapis bahan logam. Tombol-tombol kendali bisa ditemukan di sini

Tepat di atas tiga tombol tadi terdapat unit kamera 13 megapixel yang diapit lampu LED flash dan pemancar laser untuk keperluan AF-assist. Pemancar laser ini “menembakkan” cahaya tak kasat mata untuk membantu kamera agar bisa melakukan autofokus dengan lebih gegas.

“Kecepatan fokusnya hanya 0.276 detik, lebih cepat dari kedipan mata manusia yang selama 0.3 detik,” sebut Adinda. Kendati terdengar agak menyeramkan, Adinda menjamin bahwa “laser” pada LG G3 tidak berbahaya apabila tersorot ke mata manusia.

Kami pun sempat menjajal kemampuan autofokus LG G3, yang ternyata tak terasa jauh berbeda dibandingkan kecepatan AF smartphone lain.

oik yusuf/ kompas.com
Interface kamera LG G3
Seorang staf LG yang mendemonstrasikan perangkat itu menjelaskan bahwa performa autofokus baru akan optimal apabila berada di luar ruangan. Kondisi sedikit gelap di lokasi peluncuran LG G3 memang sedikit menghambat proses penguncian fokus.

Kembali ke soal kesederhanaan, konsep simple LG G3 juga merambat ke antarmuka yang digunakan.

User Interface ponsel ini didominasi tampilan flat dengan warna polos tanpa gradasi, agaknya untuk menekankan kata “sederhana” yang didengungkan LG.

Di balik tampilan antarmukanya, LG G3 menjalankan sistem operasi Android 4.4.2 Kitkat. Adapun jeroan yang digunakan mencakup prosesor quad-core Snapdragon 801 2,5 GHz, RAM 2GB, serta media penyimpanan internal 16GB.

Spesifikasi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan versi G3 yang dipasarkan di Korea Selatan, yang diperkuat RAM 3GB dan media penyimpanan internal 32GB.

Menurut Adinda, pihaknya memang sengaja memilih spesifikasi yang dinilai cocok dengan pasaran Indonesia. “Kami ingin harga yang terbaik. Di samping itu, RAM 3GB sebenarnya belum dibutuhkan,” jelasnya.

LG G3 sudah dapat dipesan di sejumlah retailer online dengan harga Rp 7 juta. Smartphone ini rencananya akan mulai hadir di pasaran lewat acara rilis perdana di mal Grand Indonesia, 27 Juni mendatang.

Sumber Tekno Kompas

Cisco baru saja merilis DX80 dan DX70, jagoan terbarunya yang akan jadi ujung tombak untuk bersaing di segmen enterprise untuk perangkat video conference. Seperti apa kemampuan dari desktop bertenaga Android ini?

Sepintas dari luar, tampilannya memang seperti desktop all-in-one PC pada umumnya. Hanya saja bedanya, ada kamera kecil di atas yang jadi fitur penting untuk jualan TelePresence-nya Cisco. Karena tidak memiliki keyboard fisik, destop ini melakukan semua aktivitas menggunakan layar sentuh. Layar sentuhnya sangat responsif untuk 10 jari dan berukuran 23 inch dengan skala 16:9.

Kamera kecil yang di bagian atas itu pun diprogram dedicated untuk always-on alias selalu standby ketika perlu dihubungi untuk meeting virtual dengan Cisco WebEx maupun Cisco Jabber. Cisco memasang video komunikasi yang cukup canggih karena sudah 1080p high-definition (HD).

Untuk melakukan panggilan video TelePresence maupun Cisco Unified Communications telephony, pengguna tak lagi memerlukan microphone maupun speaker eksternal, karena semua perangkat yang biasanya ribet dengan kabel berseliweran ini sudah built-in internal. Speaker-nya pun sudah high quality audio system

Minimum bandwidth yang disarankan untuk menggunakan DX80 dan DX70. Adalah sebagai berikut

● CIF (352 x 288 pixels) - 17kbps
● VGA (640 x 480 pixels) - 400kbps
● 240p (432 x 240 pixels) - 17 kbps
● 360p (640 x 360 pixels) - 300kbps
● 480p (848 x 480 pixels) - 600kbps
● WSVGA (1024 x 600 pixels) - 800kbps
● HD 720p (1280 x 720 pixels) - 1300kbps
● HD1080p (1920 x 1080 pixels) - 2000kbps

Content channel at 5 frames per second

● CIF (352 x 288 pixels) - 17kbps
● VGA (640 x 480 pixels) - 200kbps
● 240p (432 x 240 pixels) - 17 kbps
● 360p (640 x 360 pixels) - 150kbps
● 480p (848 x 480 pixels) - 200kbps
● WSVGA (1024 x 600 pixels) - 300kbps
● HD 720p (1280 x 720 pixels) - 500kbps
• HD1080p (1920 x 1080 pixels) - 700kbps

Baik DX80 maupun DX70, keduanya dioperasikan melalui OS Android 4.1.1. Fungsinya tentu saja mirip-mirip saat kita mengoperasikan Android di smartphone maupun tablet.Kita juga bisa mengunduh aplikasi di Play Store Google.

Meskipun pakai OS yang kerap dikabarkan rentan sekuritinya, Cisco telah mengantisipasinya dengan menanamkan Security Enhanced Android Operating System yang dikombinasikan dengan fitur Cisco end-to-end security.

Cisco juga menanamkan fitur Cisco Extension Mobility supports untuk multiple profile, serta menyediakan fitur hot-desking untuk berbagi workspaces. Dengan fitur Native Cisco AnyConnect VPN juga bisa membuat desktop ini aman dan cepat untuk kerja di kantor maupun di rumah sekalipun.

Desktop ini juga didesain untuk memudahkan transfer data secara seamless menggunakan bluetooth saat ingin memindahkan file pekerjaan dari DX80 ke smartphone maupun tablet, atau bahkan sebaliknya, secara otomatis begitu perangkat terdeteksi saat didekatkan. Di sisi desktop ini, juga ada slot USB.

Di bagian belakang, ada panel khusus untuk menyembunyikan kabel dan mengaturnya agar tampak rapi. Di belakang bagian bawah juga ada kaki-kaki penunjang yang bisa diatur agar desktop ini tampil tegak, ataupun mendatar layaknya tablet.

Secara desain dan fungsi, desktop ini sejatinya sudah sangat bagus. Kinerjanya sepintas juga cukup lumayan meskipun hanya menggunakan prosesor TI OMAP 4470 1.5 GHz dengan storage 8 GB eMMC flash memory, serta RAM 2 GB.

Menurut kami kekurangan dari produk ini adalah dari sisi harganya. Bayangkan saja DX80 di banderol USD 3.990 atau sekitar Rp 42 dan DX70 di banderol USD 2.750 atau sekitar Rp 30 jutaan.

Rencananya, kedua produk ini akan mulai dipasarkan dalam beberapa bulan mendatang di Asia Pasifik, Jepang, dan China. Di Indonesia, DX70 katanya akan hadir lebih dulu mulai pertengahan tahun ini. Sementara DX80 baru menyusul kemudian di bulan November 2014. Cisco akan memasarkannya melalui partner channel distribusinya.

Berikut adalah spesifikasi lengkap untuk DX80 dan DX70.

Display
23 inches and 14 inch diagonally
Backlit, FHD capacitive touchscreen LCD with 1920 x 1080 pixel resolution

Front Camera
HD video communication with Cisco TelePresence interoperability and other H.264 video endpoint interoperation for best-in-class video communication

Operating System
Android 4.1.1

Processor
TI OMAP 4470 1.5 GHz

Storage
8 GB eMMC flash memory

Memory
2 GB RAM

Pertama kali diperkenalkan pada ajang Mobile World Congress akhir Februari lalu di Barcelona, Spanyol, BlackBerry Z3, langsung menyita perhatian, termasuk di Indonesia yang ibukotanya, Jakarta, dijadikan kode nama perangkat tersebut.

Smartphone pertama buah kemitraan antara Blackberry dengan Foxconn ini merupakan andalan baru BlackBerry yang sengaja dibikin untuk menyasar pasar negara berkembang (semacam Indonesia), "benteng terakhir" buat produsen Kanada tersebut.

Harga kisaran Rp 2,2 juta menempatkan BlackBerry Z3 di kelas menengah pasar smartphone sebagai ponsel BlackBerry 10 termurah, bersaing dengan banyak rupa smartphone Android dari produsen lain. Apa yang bisa ditawarkan oleh "Jakarta"? Ikuti ulasan KompasTekno Berikut ini.

Kotak Solid
oik yusuf/ kompas.com
BlackBerry Z3 di balik kotak kemasan
Seperti perangkat BlackBerry 10 lainnya, Z3 datang dalam kotak berwarna hitam yang menampilkan nama ponsel dalam font putih-biru berukuran besar. Unit ponsel akan segera menyambut begitu kemasan dibuka. Di baliknya tersimpan sejumlah aksesoris tambahan seperti booklet manual, kabel charger/ data, adaptor, serta earphone. Semuanya berwarna hitam.

Harga BlackBerry Z3 boleh dibilang lumayan terjangkau untuk ukuran kantong konsumen Indonesia. Meski demikian, ketiga digenggam, segera terasa bahwa ponsel pintar ini memiliki kualitas konstruksi yang cukup baik.
oik yusuf/ kompas.com
Perlengkapan yang menyertai paket penjualan BlackBerrry Z3
Cangkang BlackBerry Z3 terbuat dari plastik yang terasa solid, tidak ringkih dan jauh dari kesan murahan. Mungkin faktor bentuk unibody sedikit banyak membantu memberikan tubuh yang "kokoh" dan padat pada perangkat ini.

Bagian belakang BlackBerry Z3 memiliki pola bintik-bintik dengan tekstur permukaan yang terasa kesat, hampir seperti bahan karet. Berbeda dengan sejumlah perangkat high-end besutan pembuatnya, BlackBerry Z3 tidak memiliki cover belakang yang bisa dilepas sehingga baterai smartphone  ini tak dapat diganti oleh pengguna.
oik yusuf/ kompas.comTampak depan BlackBerry Z3
oik yusuf/ kompas.comTampak belakang BlackBerry Z3
Layaknya smartphone touchscreen, sisi depan BlackBerry Z3 didominasi layar sentuh berukuran besar, mencapai 5 inci (960x540, 220 ppi) atau lebih besar dibandingkan BlackBerry Z10 yang diluncurkan awal tahun lalu.

Tanpa satu pun tombol fisik, bagian depan BlackBerry Z3 terlihat "bersih" dan simple. Adapun tombol-tombol untuk navigasi (tombol panggilan, search, dan kamera) dimunculkan sebagai softbutton di sisi bawah layar. Sebuah kamera sekunder dengan resolusi 1,1 megapixel bertengger di sisi atas.
oik yusuf/ kompas.com
Konektor micro-USB pada sisi bawah BlackBerry Z3. Sayang, perangkat ini belum mendukung fitur USB OTG
Sisi atas dan bawah masing-masing membuat konektor jack audio 3,5 mm dan micro-USB. Sayang, tak seperti saudaranya yang lain (Z30), BlackBerry Z3 tidak mendukung fitur USB On-the-Go sehingga tak bisa digunakan untuk membaca/ transfer data dari flashdisk USB di perjalanan.
oik yusuf/ kompas.com
Slot micro-SIM dan micro-SD card pada BlackBerry Z3
oik yusuf/ kompas.com
Deretan tombol pada sisi kiri BlackBerry Z3
Layout BlackBerry Z3 sedikit berbeda dari dua saudaranya, BlackBerry Z30 dan Z10. Slot untuk memasukkan SIM card dan micro-SD (hingga 32 GB) kini dipindahkan ke bawah penutup kecil di sisi kanan, sementara tombol power, pengatur volume, dan tombol mute yang akan memanggil aplikasi voice dialling ketika ditekan dan ditahan kini terdapat di bagian kiri.

Dua tombol untuk menaikkan dan menurunkan volume suara bisa ditekan dan ditahan secara bersamaan untuk mengambil screenshot layar.
oik yusuf/ kompas.com
Perbandingan ukuran BlackBerry Z3 (kiri), Z10 (tengah), dan Q10
Dengan bentang layar 5 inci, ukuran BlackBerry Z3 termasuk paling bongsor di antara perangkat BlackBerry 10 lain. Dimensi fisiknya kurang lebih sebanding dengan Z30 yang merupakan perangkat touchscreen tercanggih dari BlackBerry saat ini, serta jauh lebih besar dibandingkan model QWERTY seperti Q10.

Layar yang lebar itu terlihat memiliki tampilan cukup baik. Baik teks maupun gambar bisa disajikan dengan tajam dan jernih, walau tak secemerlang perangkat lain yang memiliki resolusi lebih tinggi.

Desain keseluruhan BlackBerry Z3 tampak lebih kaku dari model-model lain dengan sudut dan garis tegas sehingga berbentuk "kotak". Tampangnya yang minim lekukan sekilas mirip dengan lini smartphone Xperia dari Sony.

BlackBerry rasa Android

BlackBerry Z3 mengusung sistem operasi BlackBerry Versi 10.2.1 yang merupakan rilis terbaru dari pabrikan asal Kanada itu.

Sistem operasi ini menyertakan sejumlah besar fitur baru, misalnya pengaturan white balance di menu setting "display" dan icon untuk mengaktifkan fungsi lampu senter di panel quick settings (diakses dengan menyapu jari dari sisi atas layar ke arah bawah).
oik yusuf/ kompas.com
Tampilan homescreen BlackBerry Z3
Sayang, quick settings yang sangat berguna layaknya fitur serupa di Android dan iOS ini hanya dapat diakses dari home screen, tak bisa dipanggil selagi pengguna menjalankan aplikasi.

Kabarnya, quick settings baru akan bisa diakses dari dalam aplikasi pada update OS berikutnya (BlackBerry OS 10.3).

Salah satu fitur yang paling menarik pada sistem operasi bawaan BlackBerry Z3 adalah kemampuan untuk memasang aplikasi Android dalam bentuk file APK tanpa perlu sideload atau dikonversi terlebih dahulu menjadi file BAR seperti sebelumnya. Android Runtime pada OS ponsel ini terdeteksi sebagai versi 4.2.2 (Jelly Bean).
oik yusuf/ kompas.com
Deretan file APK dapat langsung di-install pada BlackBerry Z3. Quick settings (kanan) menyediakan akses cepat ke sejumlah aspek pengaturan baru
Pengguna pun bisa langsung meng-instal file APK aplikasi yang dibuat untuk platform Android 4.2.2 ke bawah, asalkan bukan yang memanfaatkan API Google (misalnya Google Maps).

Instalasi bisa dilakukan langsung dari file manager BlackBerry Z3, cukup dengan menelusuri file APK, misalnya yang tersimpan di dalam micro-SD, lalu mengeksekusinya.

Smartphone kemudian akan menampilkan sebuah layar berisi disclaimer sebelum melanjutkan ke tahap instalasi. Setelah selesai, icon aplikasi bersangkutan akan muncul di home screen dan bisa dijalankan dengan cara biasa, seolah tak berbeda dari aplikasi native BlackBerry 10.
oik yusuf/ kompas.com
Software benchmark Android juga bisa berjalan di BlackBerry Z3, meski mungkin tidak menggambarkan kinerja sistem sebenarnya karena mengukur lewat runtime Android yang berjalan di atas OS BlackBerry 10.2.1
Selain lewat file explorer, pengguna juga bisa mengunduh file APK dari sumber online/ toko aplikasi yang menyediakan, misalnya situs APK Train. Instalasi bisa langsung dilakukan dari jendela download browser.

KompasTekno sempat mencoba menjalankan beberapa aplikasi Android di BlackBerry Z3, termasuk game Flappy Bird, portal berita Kompas.com, dan jejaring sosial Path yang hingga kini masih belum tersedia secara native di BlackBerry 10.

Meski bisa berfungsi normal, tak semuanya berjalan dengan mulus. Pada Flappy Bird, misalnya, terdapat lag input touchscreen yang menyebabkan game ini jadi lebih sulit dimainkan. Lag serupa juga terjadi di beberapa aplikasi lain, meski tak terlalu mengganggu.
oik yusuf/ kompas.com
Aplikasi Android dalam bentuk file APK bisa dijalankan dan berfungsi normal pada BlackBerry Z3
Aplikasi Kompas.com versi native BlackBerry, misalnya, berjalan dengan lancar sementara versi Android yang dipasang pada BlackBerry Z3 agak tersendat ketika melakukan scrolling berita.

Selebihnya, fitur-fitur ala BlackBerry 10 lain, misalnya pusat komunikasi BlackBerry Hub dan BlackBerry Messenger bisa dijumpai pada BlackBerry Z3. FM radio yang menjadi bagian dari OS 10.2.1 dapat dijumpai di dalam aplikasi Music dan bisa dipakai dengan menancapkan headphone sebagai antena.

Seperti biasa, sistem operasi BlackBerry 10 mengandalkan gestur sapuan jari untuk mengakses sejumlah fungsi dasar, seperti interface multitasking dengan menyapu jari dari bagian bawah layar dan menu sidebar dengan menyapu dari sisi samping layar.
oik yusuf/ kompas.comTampilan keyboard virtual dan predictive text pada BlackBerry Z3 (kiri) dan skor dari HTML5Test.com
Keyboard pada BlackBerry 10 menyediakan opsi "predictive text" yang berusaha menebak kata apa yang berusaha diketik pengguna dari beberapa huruf awal. Sejumlah kata hasil prediksi ini akan ditampilkan secara "melayang" di beberapa bagian keyboard virtual dan bisa langsung dipilih dengan menyapukan jari ke arah atas. Maksudnya, untuk menghemat waktu mengetik.

Entah apa sebabnya, KompasTeknosering melakukan kesalahan ketik ketika menulis di keyboard on-screen pada BlackBerry Z3. Mungkin ini cuma soal kebiasaan.

Browser bawaan pada BlackBerry 10 terasa gegas ketika dipakai menjelajahi internet, melakukan loading laman web dengan gesit. Peramban ini memang merupakan salah satu yang memiliki kinrerja terbaik soal penanganan situs berbasis HTML5.


Kamera

BlackBerry Z3 turut dilengkapi dengan kamera 5 Megapixel berikut LED flash. Fungsi kamera ini bisa diakses dengan mudah lewat icon kamera yang senantiasa muncul di bagian bawah interface home screen dan lock screen.
oik yusuf/ kompas.comAntarmuka aplikasi kamera pada BlackBerry Z3
Antarmukanya sama dengan aplikasi kamera di smartphone BlackBerry 10 lain, dengan fitur-fitur khas sistem operasi tersebut seperti "Time Shift" yang bisa merekam momen sebelum dan sesudah tombol shutter ditekan, serta "Image Stabilization".

Kualitas foto BlackBerry Z3 sendiri terbilang lumayan, tak terlalu istimewa namun masih bisa menghasilkan gambar bagus di kondisi cahaya ideal. Kontras dan saturasi warna yang dihasilkan relatif tinggi, kadang terlihat terlalu "pekat" sehingga area gelap pada frame terlihat benar-benar gelap.

Noise reduction pada kondisi kurang cahaya cukup agresif sehingga mengurangi detil, namun ini lazim ditemui di kamera smartphone pada umumnya. Dalam situasi tersebut, fitur (digital) image stabilization bisa membantu mendapatkan foto yang bebas buram.

Area metering cenderung sempit dan mengikuti titik fokus, sehingga kamera acapkali terkecoh apabila titik fokus mengarah ke area yang lebih gelap/ terang daripada subyek utama yang dikehendaki. Mode metering ini tidak bisa diubah, misalnya menjadi center weight atau evaluative seperti pada beberapa smartphone Android high-end.

Beberapa contoh jepretan bisa dilihat di bawah. BlackBerry Z3 juga mampu merekam video dengan resolusi 1080p
oik yusuf/ kompas.comContoh hasil foto BlackBerry Z3 di dalam ruangan
oik yusuf/ kompas.comContoh hasil foto BlackBerry Z3 di luar ruangan
Kesimpulan

Mengusung kode nama "Jakarta" yang seolah menandai harapan besar pembuatnya pada pasar Indonesia, BlackBerry Z3 akan diluncurkan siang ini di Jakarta, Selasa (13/5/2014).

Dibandingkan para kompetitornya, Z3 menawarkan spesifikasi yang lumayan mumpuni untuk ukuran harga resmin yang dipatok pada kisaran Rp 2,2 juta. Kapasitas RAM Z3, misalnya, mencapai 1,5 GB. Jumlah yang lebih besar dibandingkan rata-rata smartphone sekelasnya itu memang diperlukan untuk menangani OS BlackBerry 10 sekaligus Android Runtime yang rakus memori.

BlackBerry Z3 masih terasa lincah ketika melakukan multitasking ataupun menjalankan aplikasi native. Untuk menghemat memori, jumlah aplikasi yang dijalankan bersamaan dalam layar multitask dibatasi 4 buah dalam satu waktu.
oik yusuf/ kompas.comRAM BlackBerry Z3 berukuran 1,5 GB untuk menampung segala aktivitas yang terjadi di memori. Apabila aplikasi Android membutuhkan update, maka harus dilakukan secara manual
BlackBerry Z3 merupakan ponsel pertama BlackBerry yang datang dengan OS 10.2.1 secara default. Sebagai fitur bawaan dari sistem operasi tersebut, pengguna bisa memasang aplikasi Android secara langsung dari bentuk file APK tanpa harus melakukan sideloading.

Fitur yang layak jadi sorotan ini bisa dilakukan untuk menyiasati belum adanya aplikasi native tertentu pada toko BlackBerry World, misalnya jejaring sosial Path. Namun, namanya bukan program native, tidak semuanya bisa berjalan mulus. Masalah pun muncul ketika aplikasi Android membutuhkan update karena perangkat BlackBerry tak bisa melakukannya secara otomatis.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kalau sampai harus repot-repot memasang aplikasi Android, kenapa tidak sekalian saja membeli smartphone berbasis sistem operasi itu? Toh, perbedaan antara BlackBerry dan ponsel lain (BBM dan jalur data eksklusif) telah terkikis, paling tidak bagi konsumen di luar kalangan korporat.

Terlebih, ia akan terjun ke segmen menengah-bawah yang sudah penuh sesak berisi aneka macam perangkat Android. BlackBerry Z3 bakal berhadapan dengan ponsel pintar dari berbagai vendor, asing maupun lokal. Mereka rata-rata mengusung spesifikasi yang setanding, dan datang dengan kelebihan masing-masing.

Di sisi lain, BlackBerry Z3 mengusung build quality yang apik dan sama sekali tak terkesan murahan meski dibanderol relatif terjangkau. Fitur-fitur lain termasuk standar namun mencukupi. "Murah tapi bagus (kualitas konstruksinya)" mungkin sebutan yang layak dialamatkan pada smartphone ini. Mampukah ia menarik perhatian konsumen di pasar yang terlanjur ramai?
oik yusuf/ kompas.comBlackBerry Z3 dan kotak kemasan
BlackBerry Z3

Kelebihan:
+ Kualitas konstruksi bagus
+ OS 10.2.1 mampu melakukan instalasi file APK secara langsung
+ Spesifikasi lumayan tinggi untuk smartphone sekelasnya
+ Layar lebar, ukuran sebanding dengan kebanyakan smartphone high-end di pasaran

Kekurangan
- Desain unibody menyulitkan penggantian baterai oleh pengguna
- Belum mendukung USB OTG
- Koleksi aplikasi BlackBerry 10 belum sebanyak platform lain
- Menu quick-settings belum bisa diakses dari dalam aplikasi
Spesifikasi
Nama ResmiBlackBerry Z3
Faktor BentukFull-touchscreen
Bentang Layar5 inci ,960x540 (220 ppi)
ProsesorQuacomm Snapdragon 400, dual-core Cortex A7 1,2 GHz, Adreno 305
RAM1,5 GB
Media Penyimpanan Internal8 GB
Slot micro-SDYa, hingga 64 GB
Kamera Utama5 Megapixel dengan LED flash
Kamera Depan1,1 Megapixel
Jaringan 2GGSM 850 / 900 / 1800 / 1900
Jaringan 3GHSDPA, HSUPA
Konektor USBMicro USB
GPSYa, dengan dukungan A-GPS
KonektivitasWLAN, BlueTooth 4,0, HMDI, jack audio 3,5 mm
Fitur lainFM Radio, Accelerometer, Proximity Sensor, Browser HTML5
Sistem OperasiBlackBerry 10.2.1
Seperti apa jam tangan pintar Speedup Smartwatch, jam tangan pintar merek lokal berbasis sistem operasi Android 4.4 Kitkat?


Speedup Smartwatch merupakan wearable device berupa jam tangan pintar dari vendor lokal Indonesia yang pertama kali diperkenalkan pada ajang Mobile World Congress 2014 di Barcelona, Spanyol, menjelang akhir Februari. Pertengahan Maret lalu, Speedup Smartwatch memasuki pasar Indonesia dengan banderol harga Rp 1,5 juta.

Perangkat ini menggunakan sistem operasi Android 4.4 "Kitkat" dan mampu terhubung ke smartphone Android atau iOS melalui Bluetooth. Pengguna cukup mengunduh aplikasi Speedup Smartwatch dari toko aplikasi lalu melakukan sinkronisasi lewat program tersebut.

Dengan terkoneksi ke smartphone, Speedup Smartwatch bisa meneruskan berbagai informasi dan notifikasi yang diterima oleh ponsel, seperti keterangan cuaca, pesan masuk di aplikasi instant messaging, serta SMS. Kendati demikian, perangkat ini tak mesti disambungkan dengan smartphone dan bisa berfungsi secara mandiri, layaknya jam tangan biasa yang diimbuhi sejumlah fitur ekstra.

Fitur ekstra dimaksud meliputi tambahan aneka widget yang berkorelasi dengan peran Speedup Smartwatch sebagai wearable device. Misalnya, ada widget bertema kesehatan yang mampu mengukur hal-hal seperti jumlah langkah kaki pengguna dalam sehari dan perkiraan jumlah kalori yang dibakar.

Penampilan Speedup Smartwatch sendiri relatif sederhana dengan desain yang simpel dan minim tombol layar. Seperti apa? Ikuti hasil penelusuran singkat Kompas Tekno dalam deretan foto berikut ini.


oik yusuf/ kompas.com

Speedup Smartwatch dan kotak kemasannya.
oik yusuf/ kompas.com

Speedup Smartwatch, direntangkan.
Keseluruhan bagian jam terlihat ketika dibentangkan. Speedup Smartwatch menggunakan sabuk berbahan karet elastis yang terasa kesat di tangan. Demikian pula dengan tombol-tombol dan tubuh jam di sekeliling layar yang dilapis material serupa.

oik yusuf/ kompas.com

Bagian belakang Speedup Smartwatch.
oik yusuf/ kompas.com

Dua tombol navigasi di sisi kanan Speedup Smartwatch.
Hanya ada dua tombol yang tersedia, yaitu tombol Power dan Return. Selain dengan menekan tombol Return, untuk kembali ke layar sebelumnya, pengguna bisa menyapukan dua jari dari atas layar ke arah bawah.

oik yusuf/ kompas.com

Aksesori babel USB-audio 3,5 mm.
Speedup menyertakan sebuah kabel USB ke jack audio 3,5mm untuk keperluan pengisian baterai lewat konektor yang tersedia pada jam. Kabel ini cukup dihubungkan ke laptop atau adapter USB yang banyak tersedia.

Daya tahannya sendiri diklaim bisa mencapai waktu dua hari, tetapi itu juga tergantung dari pemakaian. Di tangan KompasTekno, perangkat ini bisa bertahan setidaknya selama satu hari penuh dengan pemakaian casual, sesekali melongok jam dan notifikasi.

oik yusuf/ kompas.com

Sebuah widget akan membantu pengguna memantau kapasitas baterai.
oik yusuf/ kompas.com

Speedup Smartwatch saat dikenakan di tangan.
Begitu dikenakan di tangan, bagian layar Speedup Smartwatch terlihat mendominasi. Jam tangan ini memiliki sertifikat anti-air IP57 sehingga aman dipakai dalam kondisi hujan atau basah, tetapi ia tak dirancang untuk dipakai berenang.

oik yusuf/ kompas.com

Memakai Speedup Smartwatch.
Navigasi cukup mudah dilakukan, cukup dengan menyapu jari ke arah kanan dan kiri untuk menjelajahi widget dan aplikasi dalam app drawer. Setiap layar bisa memuat hingga empat icon.

Untuk menyalakan layar, pengguna bisa menekan tombol power atau memutar jam kira-kira sebanyak 45-60 derajat searah jarum jam. Gyrometer yang tertanam di dalamnya secara otomatis akan menyalakan layar (ada jeda waktu lebih kurang 1 detik) sehingga pengguna bisa melihat jam dengan mudah, ketika kedua tangan sedang sibuk memegang gelas, misalnya.

Dalam praktiknya, hal ini terasa sedikit mengganggu karena jam akan otomatis menyala sendiri secara berulang-ulang ketika ditempatkan dalam posisi tertentu, misalnya seperti terlihat dalam foto di bagian paling atas dari artikel ini. Atau ketika pengguna memiringkan tangan tanpa maksud melihat jam, seperti ketika bertolak pinggang.

Di samping memboroskan baterai, hal tersebut juga membuka kemungkinan kesalahan input karena fungsi touchscreen turut diaktifkan begitu layar menyala.

oik yusuf/ kompas.com

Dua pilihan tampilan jam pada Speedup Smartwatch. Ada banyak pilihan lainnya yang disediakan.
Soal layar itu sendiri, Speedup Smartwatch menyediakan display berbentuk persegi dengan resolusi 240x240. Tampilannya tak terlalu tajam dan cenderung pixelated, tetapi masih bisa menampilkan teks dengan jelas.

Tentu, sebagai perangkat yang sejatinya adalah sebuah jam tangan, Speedup Smartwatch menyediakan beberapa tampilan jam yang bisa dipilih, mulai dari desain "klasik" dengan tiga jarum penunjuk hingga yang berkesan modern. Dua di antaranya bisa dilihat dalam gambar di atas.

oik yusuf/ kompas.com

Ingin merekam aktivitas fisik? Speedup Smartwatch memiliki aplikasi fitness yang bisa memantau sejumlah parameter seperti langkah kaki dan jarak tempuh.
oik yusuf/ kompas.com

Notifikasi di Speedup Smartwatch.
Speedup Smartwatch akan meneruskan notifikasi yang diterima oleh smartphone, termasuk SMS dan instant messaging. SMS akan ditampilkan secara penuh, tetapi tidak demikian dengan pesan instan yang hanya menampilkan nama kontak pengirim pesan.

oik yusuf/ kompas.com

Speedup Smartwatch bisa membunyikan dering ponsel dari jauh.
Satu kemampuan unik lainnya adalah "Remote Ring" yang bisa dipakai untuk membunyikan nada dering smartphone yang terhubung ke Speedup Smartwatch selama beberapa detik, walaupun ponsel bersangkutan sedang disetel ke mode silent atau vibrate. Tentu, jangkauannya sebatas gelombang Bluetooth yang tak terlalu jauh.

Meski demikian, fitur ini bisa berguna apabila pemilik smartphone sedang kebingungan karena lupa di mana menaruh perangkat itu.

Speedup Smartwatch sebenarnya adalah gadget Android mini yang dibuat dalam bentuk jam tangan. Komponen-komponen yang tertanam di dalamnya mirip dengan gadget mobile lain, mencakup prosesor (1GHz), internal storage (4GB), dan RAM (512MB).

Karena itu, ia pun bisa menjalankan aplikasi-aplikasi Android yang dibuat khusus untuk Speedup Smartwatch. Pihak Speedup sendiri pada saat peluncuran Smartwatch telah berjanji bakal mendorong pengembangan konten lokal untuk dipakai di gadget tersebut.

Editor: Wicak Hidayat

SINGAPURA, MediaGadgetAsia.com - Setelah membuat sejumlah bocoran informasi tentang produk terbarunya, Samsung akhirnya resmi memperkenalkan Galaxy K Zoom di Singapura, Selasa (29/4/2014).

Sebelumnya sempat diprediksi bahwa produk "gabungan" smartphone dan kamera digital itu bakal dikategorikan sebagai salah satu varian Galaxy S5, namun Samsung ternyata lebih memilih untuk memisahkannya ke dalam keluarga berbeda, yaitu seri "Galaxy K" yang mengutamakan fungsi kamera.

Huruf "K" pada nama Galaxy K Zoom diambil dari slogan "Kapture The Moment", yang memang mengesankan bahwa produk ini menitikberatkan kemampuan kamera.
Meski bisa dibilang meneruskan tongkat estafet dari Galaxy S4 Zoom, Galaxy K Zoom mengusung tampilan fisik yang berbeda, lebih ramping dibandingkan pendahulunya itu. Lalu, apa saja yang ditawarkan oleh Galaxy K Zoom?

Ramping
Samsung mengedepankan desain tipis dan ringan pada Galaxy K Zoom. Dibandingkan pendahulunya, Galaxy S4 Zoom, Galaxy K Zoom memang lebih ramping dengan ketebalan hanya 20,2 mm.

Smartphone ini memiliki bobot sebesar 200 gram atau hanya berselisih sedikit dari Galaxy S4 Zoom yang bobotnya berada di angka 208 gram. Kendati demikian, Galaxy K Zoom tetap terasa cukup ketika digenggam. Namun untuk mengoperasikan Galaxy K Zoom hanya dengan satu tangan terasa agak sulit.
Sabrina Asril/ Kompas.com
Dibanding Galaxy S4 Zoom yang mendahuluinya, Galaxy K Zoom tampak lebih ramping dan rata. Di sisi kanan ini terlihat deretan tombol power, pengatur volume, dan shutter release.
Tombol power, volume, dan shutter release diletakkan berderet rapi di sisi samping Galaxy K Zoom. Ketika perangkat digunakan dalam orientasi landscape, deretan tombol ini posisinya berada di bagian atas sehingga mudah dijangkau.

Sisi belakang Galaxy K Zoom terlihat agak menonjol karena harus mengakomodir lensa zoom 10x yang akan memanjang ke luar ketika kamera diaktifkan. Sebuah flash Xenon juga bisa ditemukan di samping lensa.
Sabrina Asril/ Kompas.com
Bagian punggung Galaxy K Zoom agak menonjol di lokasi tempat menyimpan lensa zoom
Bagian punggung Galaxy K Zoom terbuat dari materi yang terasa kesat di tangan, sementara sisi depannya dibuat rata tanpa handgrip. Ini berbeda dari Galaxy S4 Zoom yang bodinya licin dan relatif bongsor.

Perubahan bentuk fisik pada Galaxy K Zoom bisa dilihat sebagai penyempurnaan dari S4 Zoom. Perangkat terdahulu itu sulit dipegang dan kerap meyebabkan pengguna salah menekan tombol, sehingga lensa kamera bisa keluar tanpa disengaja.

Hexa-core

Galaxy K Zoom turut dibekali layar sentuh selebar 4,8 inci atau sedikit ledikit lebih kecil dibandingkan Samsung Galaxy S4 dan S5, yang masing-masing mengusung layar 5 inci dan 5,1 inci. Layar AMOLED milik Galaxy K Zoom yang dilapis Gorilla Glass 3 ini memiliki resolusi 1280x720.
Sabrina Asril/ Kompas.com
Layar AMOLED 4,8 inci pada Galaxy K Zoom didukung resolusi 1280x720 dan lapisan anti-gores
Jeroan internal Galaxy K Zoom meliputi prosesor "6-core" Exynos 5 Hexa 5260 yang dibekali dua buah inti Cortex-A15 1,7 GHz berkinerja tinggi dan empat buah inti Cortex-A7 1,3 GHz untuk menangani tugas-tugas ringan. Prosesor tersebut dipasangkan dengan RAM 2 GB dan media penyimpanan internal 8GB yang bisa diperluas dengan micro-SD (hingga 64GB). Adapun OS yang digunakan adalah Android 4.4 Kitkat.

Fitur-fitur konektivitas standar tak lupa dihadirkan, mencakup sambungan 2G, 3G, 4G LTE, Wi-Fi, NFC, GPS, dan Bluetooth.

Zoom dan Selfie
Sabrina Asril/ Kompas.com Saat kamera tidak digunakan, lensa zoom 10x merapat sepenuhnya ke dalam Galaxy K Zoom sehingga bentuknya lebih ringkas dibandingkan Galaxy S4 Zoom

Kamera adalah fitur andalan Galaxy K Zoom. Samsung berkali-kali membanggakan kemampuan fitur kameranya yang dilengkapi dengan 10x optical zoom.
Dengan mekanisme zoom ini, gambar yang dihasilkan diklaim akan tetap tajam meski diperbesar berkali-kali, tak seperti zoom digital. Di belakang lensa itu terdapat sensor 20,7 megapixel BSI CMOS.

Memiliki lensa dengan rentang zoom optis lumayan panjang tak membuat bodi Galaxy K Zoom menggelembung seperti Galaxy S4 Zoom sebelumnya. Dengan memakai mekanisme baru, lensa bisa dimasukkan seluruhnya ke dalam tubuh smartphone.

Seperti biasa, Samsung menanamkan aneka macam fitur pada aplikasi kamera Galaxy K Zoom, mencakup mode-mode pengambilan gambar otomatis seperti "Auto", "HDR", "Beauty Face", dan lain sebagainya.

Salah satu fitur baru terkait kamera pada Galaxy K Zoom adalah Selfie Alarm, yang dibuat untuk memudahkan pengguna melakukan potret diri alias selfie. Untuk memakai fitur ini, pengguna tinggal menyalakannya di aplikasi kamera, lalu memilih posisi wajah yang dikehendaki dalam area frame.

Selanjutnya tinggal menghadapkan lensa kamera ke arah wajah dan menggerak-gerakkan ponsel agar bidikan mengarah ke area yang dipilih sebelumnya. Galaxy K Zoom akan mengeluarkan suara (alarm) begitu lensa kamera sudah terarah ke wajah pengguna dengan tepat, lalu menjepret gambar beberapa detik setelahnya.
Sabrina Asril/ Kompas.com

Contoh hasil jepretan Galaxy K Zoom dengan flash Xenon daktifkan